QMS Consulting

Sejak adanya Standar IATF 16949:2016, maka telah resmi dicabutnya standar ISO/TS 16949:2009 sebagai standar manajemen mutu di sektor industri otomotif. Bahkan, mulai dari 1 Oktober 2017 telah diputuskan bahwa penerapan SMM untuk industri otomotif sudah harus menggunakan standard IATF 16949:2016. Transisi harus diselesaikan paling lambat per september 2018.

Transisi perusahaan dari standar ISO/TS 16949:2009 menuju standar IATF 16949:2016 harus melalui proses audit. Proses tersebut dilakukan ketika audit yang telah terjadwal secara rutin seperti pemeriksaan sertifikasi atau surveillance audit yang sesuai dengan peraturan standar ISO/TS 16949:2009.

Audit transisi merupakan prinsip mekanisme, ketika organisasi yang saat ini telah bersertifikat akan dapat mencapai sertifikasi dengan standar baru. Audit transisi diharapkan menjadi audit dengan sistem yang penuh, setara dengan durasi audit yang dilakukan pada sertifikasi ulang (re-sertifikasi). Setiap identifikasi atas ketidaksesuaian yang ditemukan selama audit dapat diselesaikan dalam kurun waktu  60 hari. Jika perusahaan gagal dalam melakukan sertifikasi audit ini, maka akan dianggap sama seperti organisasi yang belum disertifikasi.

Banyaknya perubahan yang ada di dalam Standar IATF 16949:2016, memperlihatkan bahwa standar internasional ini menuntut adanya peningkatan pada sistem pengendalian proses dan produk. Selain itu juga, menuntu peningkatan produktivitas dan efisiensi pelaksanaan Sistem Manajemen Mutu (SMM) berdasarkan persyaratan pelanggan. Tidak cukup hanya mengikuti persyaratan pelanggan, tetapi juga dibutuhkan improvement terhadap sistem secara keseluruhan. Mulai dari proses penerimaan, realisasi sampai pengiriman produk dan jasa kepada pelanggan.

Perusahaan otomotif yang telah menerapkan IATF 16949 kini telah mendapatkan manfaat berupa:

  1. Memiliki kemampuan untuk menyediakan produk yang memenuhi persyaratan peraturan perundang-undangan, peraturan dan produk yang sesuai dengan keinginan konsumen,
  2. Peningkatan kepuasan pelanggan melalui penerapan sistem yang efektif,
  3. Terbiasa melaksanakan proses perbaikan sistem atau peningkatan berkesinambungan (Continuous Improvement),
  4. Memudahkan untuk menentukan keseluruhan konteks, pihak-pihak yang terpengaruh dan hal-hal yang diharapkannya,
  5. Memastikan tujuan dan mengidentifikasi peluang bisnis baru,
  6. Memastikan kebutuhan pelanggan secara konsisten dipenuhi dan meningkatkan kepuasan pelanggan serta menerapkan Customer Specific Requirement,
  7. Memiliki pelanggan berulang, meningkatkan loyalitas pelanggan, menambah klien baru dan meningkatkan bisnis,
  8. Memperluas ke pasar baru, karena beberapa sektor dan klien memerlukan IATF 16949 sebelum melakukan bisnis,
  9. Mengidentifikasi dan mengatasi risiko yang terkait dengan perusahaan,
  10. Bekerja dengan cara yang lebih efisien untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi, membawa biaya internal turun,
  11. Menjadi lebih bertanggung jawab secara sosial melalui dokumentasi dan implementasi kebijakan tanggung jawab perusahaan,
  12. Penerimaan pengakuan dari pihak berwenang,
  13. Memproduksi produk yang lebih aman dan lebih handal,
  14. Mengedepankan tindakan pencegahan defect/cacat,
  15. Menerapkan sistem yang efektif dengan Core Tools,
  16. Mempromosikan pengurangan variasi proses dan pemborosan atau waste di dalam supply chain.

Muhammad Abdul Hakim Faqih

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Ada Pertanyaan? Chat via WA disini